Hujan di pagi ini begitu deras. Tapi tidak mampu memadamkan api kecil yang menyala di hatiku. Ia hanya bisa menyamarkan wajah yang dibasahi oleh air mata.
Takut. Aku takut api yang begitu kecil bisa membakar hatiku. Ia bisa saja merampas semua yang kumiliki.
Luka itu sudah lama tertutup. Tapi mengapa aku masih bisa merasakan perihnya? Seolah makin hari sakitnya makin menjalar di sekujur tubuhku.
Kyaaaaaa….. wadouw… kok malah nulis yang beginian tho, ka? Ah sebelum makin kacau saja, mending baca buku sajah…
—kabur—

—perempuan yang aneh—-
….ngabur!
Oleh: kalangkabut on April 23, 2008
at 11:52 am
hehe tulisan yang aneh :p
Oleh: suci on April 26, 2008
at 12:02 am
iya nih… gak tau lagi kesambet apa tiba2 nulis begituan…
apa karena terlalu sering kehujanan yak??
huehehehhee….
Oleh: thebini on April 27, 2008
at 10:31 pm
ato lagi cemburu ka?
*ngacir sebelum ditimpuk*
Oleh: eva on April 30, 2008
at 10:49 am
cemburu?
hmmm… bisa jadi.. mungkin… wah iya iya…
ide bagus…
Oleh: thebini on Mei 1, 2008
at 11:52 pm
—perempuan yang aneh—-
begitu kata Bangpay…
ni yang aneh tika-nya ato Bangpay-nya???
ato 22nya???
-kabur…..-
sama-sama aneh sih (aku tak ingin mengingkarinya, sayang!). Bedanya dia ganteng, aku cantik!!!
—narsis mode on—
Oleh: arifah on Mei 3, 2008
at 2:08 pm
saya pakai kata perempuan lho…. jadi bukan saya!
—ngumpet di bawah pohon kecambah—
hah!!! ada raksasa kecambah !!!
Oleh: kalangkabut on Mei 4, 2008
at 4:57 am